My Holiday guide you to see the beauty of the West Borneo
Tampilkan postingan dengan label barongsai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label barongsai. Tampilkan semua postingan

Jadwal Acara Cap Go Me Singkawang 2011

Selasa, 01 Februari 2011

22-31 Januari 2011
Pameran Fotografi Memoar Orang-orang Singkawang
di Galeri Foto Jurnalistik Antara
    Jl. Antara No.59 Pasar Baru, Jakarta 10710


2-16 Februari 2011
Malam Pentas Budaya
di
Stadion Kridasana Singkawang
Dalam rentang waktu tersebut,setiap malam berpusat di Stadion Kridasana Singkawang dipentaskan kesenian dari berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke oleh berbagai Sanggar seni yang ada di kota Singkawang maupun luar kota Singkawang. Di antaranya seperti Sanggar seni Melayu, Dayak, Tionghoa, Padang, IKKSS(Sulsel), Gemisma(Madura), Batak, Banjar, Manado, NTT, NTB, IKM(Maluku), Batavia Mood(Jakarta) dan Tari Seribu Tapak Dewa(Semarang). Tidak ketinggalan beberapa sanggar seni seperti Sanggar Tangjung Serumpun,Enggang Borneo,Rose Dancer dan SMP Bruder Singkawang.


5-6 Februari 2011
Kontes Miss Shanghai
di Taman Rekreasi Bukit Bougenville Singkawang


10 Februari 2011
Seminar Kebudayaan
di Gedung Bank Mandiri
    Jl. Merdeka Singkawang
Pembicara : Salahuddin Wahid dan Bondan Gunawan


11-18 Februari 2011
Pameran Fotografi Memoar Orang-orang Singkawang sesi II
di
Gedung Bank Kalbar Singkawang
Pameran fotografi MEMOAR Orang-orang Singkawang ini adalah semacam "soft launching" yg juga merupakan cuplikan dari rencana penerbitan buku fotografi berjudul sama yang dijadwalkan peluncurannya tepat pada 20 Mei 2011 saat kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Kegiatan budaya ini akhirnya dipersembahkan bagi kebhinekaan Indonesia sekaligus meneruskan pemikiran mendiang Gus Dur (1940-2010) yg gigih memperjuangkan dan mengawal keberagaman dan perbedaan yg membuat Indonesia kokoh dan kreatif.
Kurator : Oscar Motulah.


12-13 Februari 2011
Kompetisi binaraga dan Body Jeans se-Kalimantan Barat
di
Stadion Kridasana Singkawang
bekerjasama dengan VG Fit Gym


15 Februari 2011
Malam Pawai Lampion
di ruas jalan utama kota Singkawang


16 Februari 2011
Penutupan Malam Pentas Budaya
di Stadion Kridasana Singkawang
Dimeriahkan oleh Group Keroncong Batavia Mood dari Jakarta, pertunjukkan tari Seribu Tapak Dewa dari kota Semarang.


17 Februari 2011
Pawai Tatung
di ruas jalan utama Singkawang
Dimeriahkan juga dengan atraksi tatung dari Tuban, Semarang, Batam dan Pulau Madura

Read more...

Sejarah Cap Go Meh

Rabu, 03 Maret 2010

Cap Go Meh merupakan ucapan untuk hari ke-15 setelah hari perayaan Tahun Baru Imlek dalam dialek Tio Chiu maupun Hokkian. Sedangkan pengucapan dalam dialek Kek atau Hakka pengucapannya Cang Nyiet Pan yang berarti Pertengahan Bulan atau Selisih Setengah Bulan kadang kala ada juga yang menyebutnya Sin Min Sang ( Perayaan untuk para Dewa ). Sementara untuk di daratan Tiongkok sendiri disebut dengan Yuan Xiau Jie yang bermakna Festival Malam Bulan Pertama.

Kalau diruntut ke belakang, perayaan Cap Go Meh di Indonesia itu telah ada sejak abad ke-17 saat di mulainya imigrasi masyarakat Tionghoa dari Cina Selatan ke Indonesia. Pada masa dinasti Han, kaisar ikut merayakan peristiwa ini bersama dengan seluruh rakyat. Sedangkan pada jaman dinasti Zhou sekitar abad ke-8 sampai dengan pertengahan abad ke-2 sebelum Masehi, perayaan tanggal 15 malam bulan pertama Imlek para petani memasang dan menyalakan lampion di sekitar ladang dan sawah untuk mengusir hama serta menakuti binatang perusak tanaman. Perayaan ini mereka namakan Cau Tian Chan yang berarti menerangi sawah atau ladang. Mungkin ini yang merupakan awal dimulainya festival lampion setiap tahun pada pertengahan bulan pertama Imlek. Inilah salah satu versi tentang awal mula Cap Go Meh.

Bersama dengan nyalanya lampion itu juga ditabuh gendang dan kencrengan yang meimbulkan bunyi yang berfungsi untuk menakuti hewan yang akan merusak tanaman mereka. untuk lebih memeriahkan suasana maka di ciptakanlah aneka macam bentuk hiburan seperti barongsai dan naga yang dalam mitologi masyarakat China berfungsi sebagai hewan pembawa keberuntungan dan pelindung mereka. Berjalan seiring dengan waktu maka kebiasaan ini menjadi sebuah adat kebiasaan yang terus berkembang dan diwariskan turun temurun ke generasi yang lebih muda hingga sampai saat ini.

Mengapa perayaan Cap Go Meh berubah anggapan dari perayaan rakyat menjadi perayaan keagamaan ini karena kemungkinan karena perayaan ini pada jaman dulu lebih banyak dipusatkan di sekitar Kuil atau Kelenteng. Tentunya hal ini dapat dimaklumi karena kebanyakan masyarakat Tionghoa pada saat itu merupakan penganut ajaran Konfusius, Tao dan Budha. Sejatinya masyarakat penganut Konfusius melakukan ibadat bukan di Kuil atau Vihara akan tetapi Bio atau Sin Miau yang berarti tempat tinggal Dewa atau Dewi. Sedangkan untuk masyarakat Tionghoa suku Hakka atau Kek lebih sering menyebutnya dengan Pakkung.

Perayaan Cap Go Meh yang kita lihat sekarang tentu sudah mengalami banyak perubahan, akan tetapi permainan naga dan barongsai tidak akan pernah lepas. Untuk barongsai sendiri sebenarnya ada dua macam yaitu Khilin dan Sie. Cuma yang lebih terkenal itu adalah Sie sedangkan Khilin sudah mulai hilang. Pembeda fisik antara kedua jenbis itu adalah adanya tanduk untuk Khilin dan Sie sendiri tidak memilikinya. Untuk musiknya juga berbeda iramanya.Kalau kita dengarkan irama tetabuhan untuk Khilin itu seperti musik Tango yang dominan dengan staccatonya.

Kalau adanya Tathung ( orang yang dalam keadaan trance karena kemasukan roh dewa atau dewi ) yang ada dalam perayaan Cap Go Meh itu lebih banyak berkembang kemudian dan ini sepertinya hanya ada di Indonesia saja. ( MWB:dari berbagai sumber )

Read more...

Festival Cap Go Meh di Singkawang

Kamis, 28 Januari 2010


Kalau membicarakan suasana Tahun Baru Imlek di Singkawang kurang afdol bila tidak membicarakan Festival Cap Go Meh. Sebuah perayaan yang dilaksanakan pada setiap tanggal 15 bulan pertama pada penanggalan Imlek. Di mana kita dapat melihat suasana yang sangat meriah. Tua muda, besar kecil semua berbahagia dengan perayaan ini. Tanpa melihat perbedaan etnis dan agama semua ikut memeriahkannya.

Kota dihias dengan lampion, yang pada tahun 2009 memecahkan rekor MURI karena saking banyaknya. Mencapai angka belasan ribu buah. Warna merah lampion di waktu malam tampak begitu indah. Pusat kota menjadi tampak sungguh lain pada saat-saat seperti ini. Kalau kota Singkawang bisa ramai seperti ini setiap tahun pasti penduduknya bisa tambah makmur dan pak Walikotanya tentu bahagia karena PAD-nya meningkat. Hehehehehehehe.

Daya tarik utama dalam setiap tahun perayaan Cap Go Meh ialah adanya aktraksi para tatung, barongsai, singa dan naga. Sebuah kegiatan yang membuat orang yang melihatnya akan sangat terkagum-kagum. Kalau diperhatikan sungguh-sungguh, kegiatan Cap Go Meh di Singkawang merupakan yang paling meriah di seantero negeri ini. Untuk yang ini boleh dikatakan Singkawang menjadi seng tak ada lawan. Bolehlah warganya berbangga hati ( termasuk saya ... hehehehe ).

Saat Cap Go Meh atraksi yang dilakukan oleh para tatung menjadi sajian utama. Akraksi yang diperagakan sungguh luar biasa. Para tatung ini ada yang diangkat di atas tandu, ada pula yang berjalan kaki. Mereka melakukan pertunjukkan yang sungguh membuat rasa takjub bagi melihat ( terutama untuk yang pertama kali melihat peristiwa ini ). Berdiri di atas pisau, mulut ditusuk dengan jarum besar begitu juga dengan tubuh mereka. Pisau yang dihunjamkan ke perut, makan beling dan masih banyak lagi. Pokoknya seru banget, tidak pake trick or tipuan kamera. This is real from the spot.

Para tatung kalau dilihat secara sepintas akan tampak seperti pemain debus di Banten. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian kenyataannya karena para tatung ini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan orang yang sakit. Kalau mau diperbandingkan para tatung ini dapat dikatakan merupakan gabungan antara pemain debus dan dukun. Mereka dapat melakukan ini karena diyakini tubuh mereka dimasuki oleh roh dewa / dewi.

Pertunjukkan naga yang dilakukan oleh sebuah grup yang dapat terdiri dari beberapa puluh orang, sangat menyita perhatian warga kota dan wisatawan yang berkunjung ke kota ini saat Cap Go Meh. Hal ini tidaklah heran, karena untuk memainkan permainan naga yang panjang ini tentulah memerlukan orang yang banyak. Seekor naga mainan ini paling tidak memiliki panjang sekitar 20 meter minimalnya, belum lagi para pemain gendangnya. Permainan ini memerlukan fisik yang kuat dan prima. Terutama untuk pemain yang bertugas untuk memainkan kepala naga yang berat. Bisa 25 kg bobotnya.

Mengenai permainan barongsai dan singa ini sebenarnya mirip, hanya bagi orang yang awam dengan permainan jenis ini akan sedikit bingung membedakannya. Umumnya orang lebih banyak mengenal kata barongsai / kilin dibandingkan dengan singa / si. Untuk membedakan kedua jenis permainan ini sebenarnya cukup mudah. Perhatikan saja kepalanya. Jika memiliki tanduk maka itu pasti barongsai / kilin. Sedangkan bilamana tidak itu pasti singa / si. Untuk yang sudah ahli tanpa melihat sudah bisa membedakannya pada saat dimainkan yaitu dengan mendengar jenis irama tetabuhan yang dipukul. This is for the expert only.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, perayaan Cap Go Meh juga diikuti oleh beberapa kesenian dari etnis lain yang tinggal di Singkawang. Kesenian itu seperti reog, debus, jatilan dan kuda kepang. Sungguh sangat elok. Aneka seni budaya bisa saling bermain bersama. Siapa tahu suatu saat festival ini dapat menjadi sama meriahnya dengan Karnaval Rio de Jainero. Mimpi boleh saja kan ?! Weeeeeeeew What a beautiful dream ....... !!! :);) (MWB)

Read more...

Labels

anggrek hitam (1) Antu gergasi (1) bakpao (1) bakul (1) bambu (1) baning. Nephentes (2) barongsai (3) baronsai (1) batik (2) batik Tidayu (2) bawang putih (1) Bengkayang (1) bengkuang (1) beras ketan (1) betang (1) Bidayuh (1) bika (1) bokor (1) Borneo (1) buah golau (1) bubur (1) bubur gunting (1) bukit kelam (1) cakkue (1) cap go meh (2) cerita dayak (1) cerita rakyat (1) Cucur (1) cuisine (1) daging babi (2) daun pandan (1) daun pisang (1) Dayak (14) Dayak Jangkang (1) dayak mualang (1) Dayak Ngaju (1) Dayak pesaguan (1) Dewi Kwan Im (1) doa bapa kami (1) dwikora (1) ensaid panjang (1) es jeruk nipis (1) Festival (1) garam (1) gima (1) giring-giring (1) gula merah (4) gula pasir (2) gunung (2) ham pan (1) handcraft (12) hukum adat (2) hutan (2) Iban (1) ibanik (1) ikan (1) imlek (1) Jubata (1) juhi (1) kacang tanah (1) kain (2) Kalbar (10) Kalimantan Barat (33) kanayat'n (1) kantong semar (1) kantong semarm sintang (3) kapuas (2) katak (1) kayau (1) kelenteng (1) kelepon (1) kendayan (1) kerajinan tangan (8) keranjang (1) ketan (1) ketapang (1) ketupat (1) kue (8) kue bongko (1) kue dadar gulung (1) kue getuk ubi (1) kue Hu (1) kue kelepon (2) kue lapis (1) kuetiau (1) kuil (1) kuliner (2) lamang (1) lampion (1) landak (1) laut (1) leluhur (1) lezat (1) lila (1) lotos (1) makanan (4) manik-manik (5) Manisan (2) manuhir (1) Melayu (4) mengayau (1) mietiau (1) muri (1) naga (4) nenas (1) Ngaju (1) Nyobeng (1) Oleh-oleh (2) oncoi (1) our lord prayer (1) Pahuni (1) pakaian adat (5) pandan (1) panggang (1) pangkong (1) pantai (2) parutan kelapa (2) pati nyawa (1) peci (2) Pekong (2) penganan (1) Pengkang (1) petis (1) pewarna makanan (1) pisang goreng (1) Pontianak (4) pulut (1) ragi (1) resort (1) rujak (1) rumah adat Dayak (1) Rumah panjang (1) santan (2) sapek (1) Sekadau (1) serampang (1) singa (1) singgkawang (2) singkap mangkok (1) singkar (1) Singkawang (44) singkop (1) Sintang (3) sola (1) songkok (2) sotong (1) sungai (3) Supadio (1) tael (1) tajau (2) Tampung (1) tape (1) tathung (1) Tatung (2) telur (1) tempayan (2) Temple (2) tengkorak (1) tenun ikat (4) tenun traditional (1) Teping kanji (1) tepung beras (3) tepung beras ketan (1) tepung gandum (1) tepung terigu (1) thiam pan (1) timun (1) tionghoa (4) Toa Pekong (1) traditional (1) tuak (1) Tumpi (1) Tumpik (1) ubi kayu (1) udang (1) upacara (1) vanili (1) vihara (3) wajik (1) wajik ketan (1) wisata (1)

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP