My Holiday guide you to see the beauty of the West Borneo
Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan

Our Lord Prayer in Daya' Kanayat'n Dialect

Selasa, 06 Juli 2010

Bamang Apa' Kami

Apa' kami nang ka subayat'n / saruga
dipatampaat'n dama Kita'
Atakng kiranya karajaan Kita'.

Jadilah kamaoat'n Kita' ka' atas dunia sarapati ka' dalapm Subayatn / Saruga.
Bare' kami rajaki ari nyian.
Man amponi kasalahat'n kami, urakng nang basalah man diri' kami.
Man ameh masokkat'n kami ka' dalapm pancobaan,
tapi jauhat'n kami dari sigana kajahat'n. Amen

Read more...

Museum Kapuas Raya Sintang

Selasa, 29 Juni 2010

 Museum Kapuas Raya: Ruang Pamer Sejarah Sintang

Di museum ini tersimpan dengan baik aneka benda sejarah dan hasil kerajinan masyarakat Borneo Barat.
Museum ini Kapuas Raya ini terdiri dari ruang pamer dan ruang pendukung seperti: Ruang Pamer Sejarah Sintang, Ruang Pamer Kebudayaan Sintang yang memuat keanekaragaman budaya hasil dari berbagai etnik yang terdapat di Sintang. Etnik yang banyak terbanyak di Sintang ialah Dayak, Melayu Dan Tionghoa.
Terdapat juga ruang pamer tektil yang memuat hasil tenun ikat Tradisional Dayak. Tenunan khas dayak ini seluruhnya menggunakan bahan alami yang mencirikan masyarakat Dayak yang selalu hidup berdampingan secara harmonis dengan alam.

Read more...

Keraton Almukaromah / Dara Juanti Sintang.

 Keraton Almukaromah Sintang

Di peta tahun 1657 ada lokasi yang bernama "santang" tempat pertemuan dua sungai di Borneo Barat. Pada awalnya Sintang  adalah kerajaan Hindu, jauh sebelumnya sudah ada pemukiman.
Sekitar tahun 1700 Sintang menjadi kerajaan Islam. Istana Panembahan Sintang adalah salah satu peninggalan sejarah di kabupaten Sintang yang dibangun pada tahun 1839 dan direnovasi kembali pada tahun 1936. Raja Islam yang terkenal Jubair Irawan I sekitar awal abad ke 13 yang memiliki seorang Putri yang bernama Dara Juanti yang disunting oleh Patih Logender dari Majapahit.
Di dalam istana ini tersimpan dan terpelihara dengan baik benda-benda seperti Gundukan Tanah yang berasal dari tanah Majapahit, Meriam Raja Suka, M eriam Anak RAja Suka sebanyak 7 buah, Meriam Raja Beruk, Kampak Batu, Alat musik Dayak yaitu Kecapi Sape' dan lainnya.
Selain itu terdapat kompleks makam raja yang terletak di kelurahan Kapuas Kiri Hilir yang berjarak 2 km dari pusat kota Sintang dengan jalan darat atau sekitar 20 menit melalui sungai Melawi/ Kapuas.

Read more...

Kerajinan Manik-manik Kalimantan Barat # 6

Kamis, 24 Juni 2010



Kerajinan Manik-manik Kalimantan Barat

Read more...

Kerajinan Manik-manik Kalimantan Barat # 5



Kerajinan Manik-manik Kalimantan Barat

Read more...

Kerajinan Manik-manik Kalimantan Barat # 4



Kerajinan Manik-manik Kalimantan Barat

Read more...

Kerajinan Manik-manik Kalimantan Barat # 3



Kerajinan Manik-manik Kalimantan Barat

Read more...

Kerajinan Manik-manik Kalimantan Barat # 2



Kerajinan Manik-manik Kalimantan Barat

Read more...

Kain Tenun Ikat Tradisional Dayak # 3


Kain Tenun Ikat Tradisional Dayak

Read more...

Kain Tenun Ikat Tradisional Dayak # 2


Kain Tenun Ikat Tradisional Dayak

Read more...

Kain Tenun Ikat Tradisional Dayak #1



Kain Tenun Ikat Tradisional Dayak

Read more...

Pakaian Adat Dayak #2

Read more...

Lamang

Jumat, 05 Maret 2010

Pengunjung setia Blog MyHolidaySite.blogspot.com, kali ini kita akan membahas makanan kecil khas Kalimantan Barat lainnya yang bernama Lamang. Penganan ini berasal dari suku Daya', yang umumnya hanya dibuat pada saat ada perayaan atau kejadian khusus saja. Kalau sekarang mungkin sudah bisa  kita lihat di tempat penjualan makan kecil. Kalau diucapkan oleh masyarakat suku Melayu maka namanya menjadi Lemang. Sedangkan oleh saudara kita yang berasal dari suku Tionghoa akan menjadi Cuk Thung Fon atawa nasi yang dimasak dalam bumbung bambu. Nama lain untuk penganan ini ialah CUcur kalau pakai bahasa Indonesia. Tips: kalau di kampung-kampung jangan pakai nama cucur karena mereka lebih akrab dengan Lamang or Lemang.

Sekarang kita akan bahas sedikit tentang bahan dan cara pembuatan Lamang. Untuk membuat Lamang sering menjadi masalah ialah pada saat waktu pembakaran atau saat memasaknya. Bahan yang diperlukan saat membuat Lamang ialah beras ketan ( pulut dalam bahsa Daya' dan Melayu ) dengan bumbu sedikit garam, santan kelapa, daun pisang yang masih muda, bawang putih dan tentu saja bumbung bambu. Bambu yang digunakan di sini ialah jenis bambu yang berkulit tipis yang nama lokalnya oleh warga keturunan Daya' dinamakan Soenkg. Bambu jenis ini selain berkulit tipis juga ruasnya panjang sekitar 60-70 cm dan diameternya sekitar 6 cm.

Cara pembuatannya. Setelah bambu disiapkan dan dibersihkan dalam dengan cara mengisinya dengan air sekitar semalaman, maka isikan potongan daun pisang muda sebagai pelapisnya. Ini memiliki maksud agar nanti kalau sudah matang ketannya tidak menempel di kulit batang bambu. Setelah melapis dengan daun pisang makan selanjutkan masukkan beras ketan yang sudah sicampur dengan garam dan ulekan bawang putih ini agar nanti hasilnya lebih harum dan rasanya lebih nikmat. Kalau orang Holanda bilang lekker. Setelah itu baru masukkan air santan kedalamnya. Jika sudah selesai semuanya maka siaplah bumbung bambu ini untuk dibakar sebagai proses akhir pematangan.

Proses pembakaran. Untuk bagaian ini harus dibuat dulu tatakan untuk menaruh bumbung bambu tadi yang berupa tatakan dasar yang terbuat dari batang pisang dan sandaran atasnya dari kayu biasa. Posisi sandaran dan dasar tatakan pada saat ruas batang bambu ini diletakan akan sedikit miring dengan sudut sekitar 80 derajat. Setelah tatakan pembakaran selesai maka api siap dinyalakan dan ruas bambu tadi ditaruh ditatakan tersebut. Nyala api harus dipertahankan merata jangan terlalu besar karena ruas bambu akan hangus. Untuk yang sudah ahli memasak Lamang tentu bukan masalah. hehehehe kahn sudah ahli. Sebenarnya yang sangat dibutuhkan ialah panas dari bara api itu. Sambil diputar ruas batang bambu itu maka matangnya Lamang akan merata dan tidak akan hangus. Nyala bara dipertahankan dengan jalan mengipasinya. Jika sudah matang maka siaplah Lamang ini untuk diangkat dari tempat pemanggangannya. Terus biarkan sampai dingin dulu. Setelah dingin maka para The Rakuser bisa siap untuk menyantapnya. Belah ruas bambu itu untuk mengeluarkan Lamang matang tersebut terus potong jadi ruas-ruas kecil terus dimakan dech. Uuuuuuuuuuups jangan lupa daun pisangnya dilepas dan dibuang di tempat sampah ya.!!!

Kadangkala untuk variasi rasa dan mempercantik isi dari Lamang ini dapat juga dimasukan kacang merah yang tentunya sudah direndam dulu biar lebih mudah matang. Akhirnya selesai dech tulisan artikel ini. Selamat mencoba dan menikmatinya. ( MWB )

Read more...

Ritual Nyobeng 2010

Minggu, 07 Februari 2010


 
Ritual Nyobeng dari berbagai referensi merupakan sebuah ritual memandikan atau membersihkan tengkorak manusia hasil mengayau oleh nenek moyang. Ini dilakukan oleh suku Dayak Bidayuh, salah satu sub-suku Dayak di Kampung Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Upacara ini cukup mengharukan, dan berlangsung selama tiga hari. Dilaksanakan mulai tanggal 15 hingga 17 Juni 2010

 
Mengayau adalah peristiwa memenggal kepala manusia, kemudian tengkoraknya diawetkan. Sekarang, tradisi mengayau sudah tak dilakukan lagi. 
 
Kegiatan utama ritual Nyobeng yakni, memandikan tengkorak yang tersimpan dalam rumah adat. Sesuai aturan yang dipercaya secara turun temurun. Acara dimulai dari menyambut tamu di batas desa. Awalnya, ini dilakukan untuk menyambut anggota kelompok yang datang dari mengayau. Penyambut, mengenakan selempang kain merah dengan hiasan manik-manik dari gigi binatang. Dilengkapi dengan sumpit dan senapan lantak yang dibunyikan, ketika para tamu undangan hendak memasuki batas desa. Sumpit juga diacungkan secara bersamaan. Letusan suara dari senapan lantak ditembakkan tersebut, juga berfungsi memanggil roh leluhur sekaligus minta izin bagi pelaksanaan ritual Nyobeng. Kemudian, tetua adat melemparkan seekor anjing ke udara. Dengan menggunakan mandau, pihak ketua tamu rombongan harus menebasnya. Jika masih hidup, harus dipotong dengan mandau begitu jatuh ke tanah. Prosesi yang sama juga berlaku untuk ayam. Tetua adat melempar telur ayam kepada rombongan tamu. Jika telur tak pecah, maka tamu yang datang dianggap tidak tulus. Sebaliknya, jika pecah, berarti tamu datang dengan ikhlas.

Beras putih dan kuning dilempar sambil membaca mantra. Para gadis lalu menyuguhkan tuak dari pohon nira yang dicampur kulit pohon pakak yang telah dikeringkan. Seusai acara minum, rombongan tamu diantar menuju Rumah Balug yang terletak di tengah perkampungan.

Rumah Balug merupakan rumah adat yang berupa rumah panggung dan berbentuk bulat. Untuk memasuki rumah ini, dibuatkan undakan yang terbuat dari bilah pohon. Lebarnya sekira 10 meter dengan tinggi 15 meter dari tanah.

Saat memasuki tempat upacara, rombongan diberi percikan air yang telah diberi mantra dengan daun anjuang. Tujuannya sebagai tolak bala, agar para tamu terhindar bencana. Ketika memasuki area upacara, para tamu harus menginjak buah kundur yang diletakkan dalam baskom yang lebih dikenal dengan ritual Pepasan.

Bersama warga, para tamu kemudian menari tari Mamiamis sambil mengitari rumah adat. Mamiamis adalah tarian untuk menyambut dan menghormati para pembela tanah leluhur yang baru datang dari mengayau. Tarian ini diiringi oleh Tetua adat sambil menyanyikan lagu dan membaca mantra-mantra.

Tetua adat naik Rumah Balug. Simlog pun dipukul dan mercon dibunyikan. Tujuannya untuk memanggil arwah leluhur juga sebagai tanda dimulainya Upacara Nyobeng. Dilanjutkan dengan makan bersama di Rumah Balug. Toleransi juga tinggi. Bagi warga muslim, disediakan makanan khusus bukan daging babi. Sehabis makan, tamu boleh meninggalkan area rumah adat untuk beristirahat. Pilihannya bisa istirahat di rumah penduduk.

Saat istirahat, sebagian laki-laki di daerah tersebut menyusuri hutan untuk mencari bambu hutan. Diameternya sekitar sepuluhan centimeter. Smentara itu, setiap rumah membuat sesajian yang dioles dengan darah dari sayap ayam. Darah ayam ini juga dipercikkan ke bagian-bagian rumah dan pekarangan yang dianggap sakral.

Setelah dapat bambu hutan yang dicari, para pria itu menggotongnya menuju ke rumah adat secara beramai-ramai. Setelah itu para keluarga dan para tamu kembali menuju rumah adat. Dengan memegang mandau bambu dikitari sambil berbaris. Mandau yang dibawa merupakan pusaka keluarga. Hiasan pada gagang mandau dapat terbuat dari tulang atau kayu. Hiasan pada gagang juga sebagai lambang  yang mengandung makna dan prestasi tertentu dari sipemilik mandau dalam mengayau. Ketika persiapan sudah matang, ketua adat memberi isyarat untuk memulai kegiatan. Salah seorang maju ke depan sambil menarik mandau dari sarungnya kemudian menebaskan mandau ke batang bambu. Jika dalam sekali tebas, bambu putus maka ini merupakan pertanda baik menurut kepercayaan masyarakat adat setempat.

Seusai acara potong bambu, roh pun dipanggil oleh ketua adat. Adapun tujuan pemanggilan roh, leluhur untuk menghadirkan dan memohon ijin agar upacara Nyobeng berjalan lancar dan terlindungi. Tujuh macam sesajian diletakkan di batas desa. Kemudian ketua adat menaiki rumah panggung.  Kotak yang berada di atas bumbungan rumah adat kemudian diambil oleh tetua adat, yang mana didalamnya tersimpan tengkorak manusia dan kalung dari taring babi hutan.  Selanjutnya tetua adat melumuri tangannya dengan ramuan khusus dan terus mengoleskannya pada tengkorak yang ada di dalam kotak. Setelah itu ketua adat memotong seekor ayam hingga kepalanya putus. Kepala dan tetesan darah ayam tersebut dioleskan pada tengkorak. Kemudian tengkorak dimasukkan lagi pada kotak dan disimpan. 

Acara dilanjutkan dengan upacara memotong anjing. Darah anjing yang dipotong kemudian diusapkan pada tiang penyangga rumah adat, rumah-rumahan kecil, dan patung laki-laki dan perempuan yang berada di samping rumah adat dan patung. Rumah-rumahan dan patung-patung tersebut dianggap sebagai asal-usul nenek moyang mereka. Pemotongan anjing dimaksudkan untuk menolak roh jahat. Sebagian daging anjing yang baru dipotong kemudian dibawa ke atas rumah adat.

Source: http://disbudpar.kalbarprov.go.id/wisata-budaya/149-ritual-nyobeng.html 

Read more...

Labels

anggrek hitam (1) Antu gergasi (1) bakpao (1) bakul (1) bambu (1) baning. Nephentes (2) barongsai (3) baronsai (1) batik (2) batik Tidayu (2) bawang putih (1) Bengkayang (1) bengkuang (1) beras ketan (1) betang (1) Bidayuh (1) bika (1) bokor (1) Borneo (1) buah golau (1) bubur (1) bubur gunting (1) bukit kelam (1) cakkue (1) cap go meh (2) cerita dayak (1) cerita rakyat (1) Cucur (1) cuisine (1) daging babi (2) daun pandan (1) daun pisang (1) Dayak (14) Dayak Jangkang (1) dayak mualang (1) Dayak Ngaju (1) Dayak pesaguan (1) Dewi Kwan Im (1) doa bapa kami (1) dwikora (1) ensaid panjang (1) es jeruk nipis (1) Festival (1) garam (1) gima (1) giring-giring (1) gula merah (4) gula pasir (2) gunung (2) ham pan (1) handcraft (12) hukum adat (2) hutan (2) Iban (1) ibanik (1) ikan (1) imlek (1) Jubata (1) juhi (1) kacang tanah (1) kain (2) Kalbar (10) Kalimantan Barat (33) kanayat'n (1) kantong semar (1) kantong semarm sintang (3) kapuas (2) katak (1) kayau (1) kelenteng (1) kelepon (1) kendayan (1) kerajinan tangan (8) keranjang (1) ketan (1) ketapang (1) ketupat (1) kue (8) kue bongko (1) kue dadar gulung (1) kue getuk ubi (1) kue Hu (1) kue kelepon (2) kue lapis (1) kuetiau (1) kuil (1) kuliner (2) lamang (1) lampion (1) landak (1) laut (1) leluhur (1) lezat (1) lila (1) lotos (1) makanan (4) manik-manik (5) Manisan (2) manuhir (1) Melayu (4) mengayau (1) mietiau (1) muri (1) naga (4) nenas (1) Ngaju (1) Nyobeng (1) Oleh-oleh (2) oncoi (1) our lord prayer (1) Pahuni (1) pakaian adat (5) pandan (1) panggang (1) pangkong (1) pantai (2) parutan kelapa (2) pati nyawa (1) peci (2) Pekong (2) penganan (1) Pengkang (1) petis (1) pewarna makanan (1) pisang goreng (1) Pontianak (4) pulut (1) ragi (1) resort (1) rujak (1) rumah adat Dayak (1) Rumah panjang (1) santan (2) sapek (1) Sekadau (1) serampang (1) singa (1) singgkawang (2) singkap mangkok (1) singkar (1) Singkawang (44) singkop (1) Sintang (3) sola (1) songkok (2) sotong (1) sungai (3) Supadio (1) tael (1) tajau (2) Tampung (1) tape (1) tathung (1) Tatung (2) telur (1) tempayan (2) Temple (2) tengkorak (1) tenun ikat (4) tenun traditional (1) Teping kanji (1) tepung beras (3) tepung beras ketan (1) tepung gandum (1) tepung terigu (1) thiam pan (1) timun (1) tionghoa (4) Toa Pekong (1) traditional (1) tuak (1) Tumpi (1) Tumpik (1) ubi kayu (1) udang (1) upacara (1) vanili (1) vihara (3) wajik (1) wajik ketan (1) wisata (1)

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP